2020 Sektor Properti Diprediksi Bangkit dari Mati Suri
2020 Sektor Properti Diprediksi Bangkit dari Mati Suri

Sektor Properti Tahun 2020

Sektor properti diprediksi akan kembali bergairah pada tahun 2020. Hal ini didorong masifnya pembangunan infrastruktur serta sejumlah faktor stimulus lainnya. Seperti proyeksi Bank Dunia terkait pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 5,1 persen, stabilitas lalu inflasi di kisaran 3 persen, serta suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) 5 persen. Melihat kondisi ini, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda memperkirakan pasar properti akan meningkat cepat, terutama setelah tertahan selama beberapa tahun terakhir. “Enggak ada alasan properti tidak naik. Ini indikasi sudah jelas,” ujar Ali, di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Dia menuturkan, sektor properti Indonesia mengenal siklus tujuh tahunan. Pada tahun 2009-2012 industri properti sedang berada dalam masa puncak. Pada saat itu, wilayah barat Jakarta menjadi primadona dengan banyaknya investor yang masuk. Harga propertinya berada di kisaran Rp 250 juta. Lalu tiga tahun kemudian, harganya meningkat lima kali lipat. Menurut Ali, pertumbuhan industri properti di wilayah barat Jakarta saat itu dipengaruhi oleh masifnya pembangunan infrastruktur. “Akses tol yang masuk ke koridor barat Jakarta, ditambah pengembang mempromosikan produknya. Ini seharusnya bisa terjadi di koridor timur Jakarta,” ucap Ali.

Tetapi peningkatan harga properti yang terlalu tinggi saat itu membuat pasar menjadi jenuh dan properti menjadi over valued. Sejak saat itu, pasar properti mengalami perlambatan. Lalu pada tahun 2017, para pelaku properti memprediksi sektor ini akan pulih. Pemberitaan Kompas.com menyebutkan, perkiraan ini terjadi karena pada saat itu harga terkoreksi jauh bila dibandingkan dengan tahun 2011-2013 yang melonjak hingga 30-40 persen.

Kemudian pemerintah memberikan stimulus berupa paket kebijakan ekonomi mulai dari penurunan bunga kredit, relaksasi loan to value (LTV), potongan pajak penjualan, deregulasi perizinan, hingga amnesti pajak. Tetapi hal ini tidak terjadi. Ali menuturkan, penyebabnya karena harga properti yang terlalu tinggi yang dibarengi dengan isu politik terutama Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Pilkada turut memberikan dampak luas terhadap pasar properti nasional. Setelah itu memasuki tahun 2018 atau tahun politik, investor memilih aksi wait and see. “Dari 2013 sampai saat ini properti mati suri. Sebetulnya 2017 properti sudah waktunya naik, cuma masalahnya 2017 ada Pilkada DKI, 2018 masuk pilpres tahun politik,” kata Ali. Dia melanjutkan, memasuki tahun 2020 pasar properti seharusnya mulai bangkit.

Sumber: kompas.com